Keluarga Ki Hariyadi 2005

Informasi mengenal Keluarga Mas Eki Lebih Jauh

2005/5/25

Metode Quantum Teaching

@ 07:05 AM (39 months, 20 days ago)

Cerahkan Dunia Pendidikan Dengan Metode Quantum Teaching

Oleh: Rasyid Ridho

Seiring perkembangan zaman, dunia pendidikan juga memerlukan berbagai inovasi. Hal itu penting dilakukan untuk kemajuan kualitas pendidikan, tidak hanya pada tataran teori tapi sudah bisa diarahkan kepada hal yang bersifat fraksis.

Diakui atau tidak (meski masih belum ada penelitian konkret), banyak yang merasa sistem pendidikan terutama proses belajar mengajar, membosankan. Dalam sebuah situs di internet ditulis, fakta yang terjadi akhir-akhir ini ada banyak keluhan murid tentang pendidikan. Di antaranya, murid menganggap pendidikan saat ini kurang memberikan kebebasan berpikir, banyak hapalan, mata pelajaran banyak mengejar kurikulum, mengajarkan pengetahuan bukan keterampilan, dan banyak mengajarkan logika tanpa melibatkan emosi.

Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, ditemukan sebuah pendekatan pengajaran yang disebut dengan Quantum Teaching, dikembangkan oleh seorang guru dalam pembelajaran. Quantum Teaching sendiri berawal dari sebuah upaya Dr Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar.

Pada perkembangan selanjutnya, Bobbi de Porter (penulis buku best seller Quantum Learning dan Quantum Teaching), murid Lozanov, dan Mike Hernacki, mantan guru dan penulis, mengembangkan konsep Lozanov menjadi Quantum Learning. Metode belajar ini diadopsi dari beberapa teori. Antara lain sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik.

Konsep itu sukses diterapkan di Super Camp, lembaga kursus yang dibangun de Porter. Dilakukan sebuah penelitian untuk disertasi doktroral pada 1991, yang melibatkan sekitar 6.042 responden. Dari penelitian itu, Super Camp berhasil mendongkrak potensi psikis siswa. Antara lain peningkatan motivasi 80 persen, nilai belajar 73 persen, dan memperbesar keyakinan diri 81 persen.

Sekolah yang didirikan de Porter itu, menjadi pusat percontohan tempat metode Quantum dipraktikkan. Remaja, karyawan, eksekutif perusahaan, menjadi murid di sekolah ini. Tujuannya satu: menjadi manusia baru. Pada akhirnya Quantum Learning itu kembali disempurnakan menjadi Quantum Teaching. Itulah sebabnya Jack Canfielf, penulis buku Chicken Soup of the Soul mengatakan, metode ini akan mengobarkan kembali api yang ada di dalam diri Anda.

Quantum Teaching bahkan menggugat cara mengajar yang selama ini dilakukan secara ‘turun temurun’.

Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:

E = mc2

E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat)

M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik)

c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas)

Berdasarkan persamaan ini dapat dipahami, interaksi serta proses pembelajaran yang tercipta akan berpengaruh besar sekali terhadap efektivitas dan antusiasme belajar pada peserta didik.

Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.

Bila metode ini diterapkan, maka guru akan lebih mencintai dan lebih berhasil dalam memberikan materi serta lebih dicintai anak didik karena guru mengoptimalkan berbagai metode.

Apalagi dalam Quantum Teaching ada istilah ‘Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan hantarlah dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajara dengan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.

Selain itu, ada beberapa prinsip Quantum Teaching, yaitu:

1. Segalanya berbicara, lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar.

2. Segalanya bertujuan, siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan.

3. Pengalaman sebelum konsep, dari pengalaman guru dan siswa diperoleh banyak konsep.

4. Akui setiap usaha, menghargai usaha siswa sekecil apa pun.

5. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan, berkata: bagus!, baik!, dll.

Lebih jauh, dunia pendidikan akan semakin maju ke depannya. Sebab, Quantum Teaching akan membantu siswa dalam menumbuhkan minat siswa untuk terus belajar dengan semangat. Apalagi Quantum Teaching juga sangat menekankan pada pentingnya bahasa tubuh. Seperti tersenyum, bahu tegak, kepala ke atas, mengadakan kontak mata dengan siswa dan lain-lain. Humor yang bertujuan agar KBM tidak membosankan.

Guru juga perlu memiliki Emotional Intelligence, yaitu kemampuan kita untuk matang mengelola emosi.

Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari,
tinggal di Banjarmasin
e-mail: smartbjm@indo.net.id


Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Pelajaran dari negeri seberang

@ 07:03 AM (39 months, 20 days ago)

Raja Thailand, Miss Universe And We

Oleh: Ida Nurbagus

Sangat mengesankan saat pertama kali menonton film bioskop di Thailand. Sebelum film ditayangkan, diputarlah trailer dan lagu kebangsaan untuk Raja. Trailer dibuka dengan sejumlah foto ketika raja naik tahta, menjenguk rakyat sakit, menyentuh tangan seorang tua, melompati jembatan di sungai kecil dan di berbagai kegiatan kemasyarakatan lain dengan kamera yang selalu tergantung di dadanya.

Terpampang pula foto-foto raja diselingi klip rakyat Thailand berbagai kalangan yang sedang memberikan sikap penghormatan (sawasdee/wai), nelayan di laut sambil menatap matahari senja, anak sekolah yang memeluk erat foto raja, sekumpulan anak muda (dengan pakaian gaya) tertunduk di kuil, dan wajah orang-orang tua yang penuh cinta pada sang Raja.

Refleks! Begitu lagu berkumandang, seluruh penonton di bioskop spontan berdiri, untuk memberi penghormatan. Lagu kebangsaan raja terdengar khidmat dan indah, mengalun syahdu, hingga kadang terasa menyesakkan dada.

Meski termasuk yang jarang menonton film bioskop di Thailand, ada perasaan terharu dalam dada ini, kagum dan sedikit iri setiap menyaksikan acara penghormatan ini berlangsung. Saat modernisasi sedang giat-giatnya, di sebuah negeri yang tidak jauh dari tanah air, masih ada figur pemimpin yang begitu dicintai dan mencintai rakyat. Sedikit saja seseorang (apalagi orang asing) mengatakan hal yang kurang baik tentang raja, orang Thai terdekat akan marah dan sakit hati.

Ada Apa Dengan Raja?

Raja Thailand saat ini adalah King Bhumibol Adulyadej, atau King Rama IX. Beliau lahir di Massachusett, Amerika pada 1927 dan naik tahta pada 1946 (ketika usianya masih 19 tahun) karena raja sebelumnya yang juga saudara kandungnya, terbunuh. Saat itu beliau meminta untuk menyelesaikan sekaligus mengubah major studinya dari Science ke Political Science & Law di Swiss, sebelum menjalankan fungsinya sebagai raja.

Setelah kembali ke Thailand dan menjadi raja, Bhumibol menghabiskan waktu bertahun-tahun keluar masuk wilayah perdesaan di kerajaan Thailand untuk bertemu, bicara dan mendengarkan rakyatnya. Beliau mengumpulkan informasi secara pribadi, mengevaluasi sektor pertanian, melakukan eksperimen soal teknologi pertanian di lahan sekitar istana di Bangkok. Di istana, raja berinisiatif melakukan serangkaian proyek percontohan pertanian.

Sekarang, sudah lebih dari 4.000 proyek raja yang berurusan dengan irigasi, pengelolaan sumber daya air, konservasi hutan, perikanan, perbaikan erosi, teknologi pertanaman, reboisasi, pengembangan lahan, pengembangan perdesaan dan komunitas, pelayanan kesehatan dasar, pendidikan, kontrol banjir, transportasi perkotaan, dan proteksi lingkungan.

Proyek itu bukan untuk mengharumkan kekuasaan monarki, tetapi benar-benar untuk kepentingan semua masyarakat. Tidak heran, raja dituruti rakyatnya. Raja mendapatkan kekuatan moral yang besar dari rakyat.

Laksana dongeng, dari kedekatan itu sang Raja melahirkan beberapa teori dan konsep tentang jaringan irigasi yang sampai sekarang memajukan dunia pertanian Thailand. Tindakan nyata ini membuat ekonomi rakyat bangkit, memungkinkan si miskin dan orang terpinggirkan terangkat status sosialnya. Semua itu memperkuat kehidupan sosial, persatuan negara dan terbentuknya identitas Thailand yang kuat.

Sebagai Buddha, tindakan Raja Bhumibol dipengaruhi oleh dharma raja yang memberi dengan tulus, bermoral tinggi, liberal, disiplin, menahan diri, tidak gampang murka, menghindari kekerasan, siap menderita, dan tidak mau gegabah. Mereka mencari tahu apa yang berubah dan terjadi pada kerajaan dan di luar kerajaan, melakukan reformasi, dan membuka diri terhadap pengaruh dan ide-ide asing.

Raja Bhumibol sudah bertakhta selama hampir 60 tahun tanpa ada gugatan berarti. Setelah Thailand mengalami 17 kali kudeta dan memiliki lebih dari 21 perdana menteri, tetapi raja Thailand tetaplah Raja Bhumibol.

Kini, Thailand siap menjadi negara modern di bawah monarki konstitusional, dari negara agraria menjadi agroindustri yang modern. Di negara inilah pemilihan miss universe tahun ini digelar. Ajang remaja puteri seluruh dunia untuk berbagi pengalaman, kecerdasan, meski tak menutup mata pada adanya faktor fisik di dalamnya hingga keikutsertaan Puteri Indonesia masih terus menuai kontroversi.

Tulisan ini hanya ingin mengajak pembaca untuk melihat pemilihan miss universe bukan semata dari sudut boleh atau tidak, haram atau halal, tapi lebih pada sebuah pilihan dari berbagai alternatif yang ada seperti juga pilkada yang sekarang sedang berlangsung. Barangkali akan lebih bijaksana, santun, anggun dan educated kalau kita menawarkan pilihan ‘jagoan’ kita dengan menunjukkan berbagai kelebihan yang kita miliki, bukan dengan mencacat dan mencerca konstentan lain. Pun dalam pemilihan miss universe ini, bagi yang menolak bagaimana kemudian mereka mampu memberi alternatif acara lain ‘serupa’ yang kelak bisa menarik hati siapa pun.

Sebetulnya agak mengerikan membicarakan hal-hal yang berbau agama (khususnya Islam) di negeri ini, salah sedikit saja bisa-bisa kutukan dan berbagai ancaman datang mengalir. Tetapi sebagai ibu, bagaimana pun penulis ingin mengajak anak-anak muda untuk melihat apa pun fenomena yang ada sebagai --sekali lagi-- sebuah pilihan semata. Bukan ancaman atau sesuatu yang harus dilawan secara fisik, diberangus untuk dihilangkan dari muka bumi.

Arus informasi yang demikian gencar, agaknya sudah agak mustahil untuk ditahan. Sekarang tinggal kita belajar untuk bersikap tidak reaktif terhadap apa pun perubahan yang ada. Syukur-syukur jika kemudian bisa digali dan dilihat lebih mendalam; apa, bagaimana dan solusi macam apa yang optimum yang bisa kita lakukan dalam mengantisipasi segala sesuatunya.

Pada Maret lalu, salah satu majalah remaja mengadakan pemilihan Remaja Berprestasi yang seluruh finalisnya brilian dan sangat membanggakan. Mereka tampil dan berlomba dengan santunnya dalam menjadi yang terbaik, tanpa harus (menurut sebagian kelompok) tampil dengan ‘buka-bukaan’. Di mana pada poin ini muncul kontroversi dalam keikutsertaan Indonesia pada pemilihan miss universe. Sekarang masalahnya, seberapa persen dari kaum remaja yang tahu adanya acara ini? Gelegar penyelenggaraan acara ini seperti kalah gaung dengan fenomena AFI cs. Artinya, merupakan sebuah pe-er besar bagi penyelenggara untuk bisa mengemas acara serupa agar gemanya bisa ‘terdengar’ lebih keras. Agar, kaum remaja di Indonesia khususnya bisa mendapat alternatif lain untuk mereka pilih.

Fenomena Aa Gym, juga merupakan contoh lain yang menarik. Kehadiran dai rendah hati ini mampu menjadi solusi beberapa masalah kemasyarakatan tanpa berperang secara kasar dalam menghancurkan ‘lawan’, tapi dengan cara memberi contoh lain yang layak tiru.

Dua contoh di atas adalah contoh real bagaimana sebuah pilihan dihadirkan di tengah masyarakat. Di antara berbagai acara dan tokoh yang ada, masyarakat bisa dengan bebas menentukan mana yang dipilihnya.

Sudah banyak catatan negatif ditorehkan dunia pada kita; mulai dari tingkat korupsi yang tinggi (sekali), pendidikan yang belum merata, kualitas kesertaan kaum perempuan yang rendah dan berbagai berita miring lain yang kadang diperparah dengan ‘senangnya’ kita ‘berperang’. Beruntung era pemboman sudah berlalu, di mana hal ini sering memperburuk kondisi bangsa di mata dunia luar.

Agaknya sudah bukan masanya lagi kita untuk terus mengecam, melarang, menakut-nakuti atau bahkan mengancam seseorang/sekelompok masyarakat yang tidak sejalan dengan pemikiran kita. Melahirkan banyak contoh yang layak tiru baik figur seseorang (seperti Raja Bhumibol dalam pandangan rakyat Thailand) atau acara yang bisa lebih menawarkan sesuatu yang baru, mampu menarik simpati dari masyarakat banyak adalah sesuatu yang sepertinya harus terus kita tingkatkan.

Dalam era persaingan bebas ini, semoga masyarakat damai yang berkualitas bisa segera terwujud di tanah air tercinta. Amin.

Ibu dua anak, tinggal di Bangkok
e-mail: idanurbagus@yahoo.com

2005/4/16

Berita Bahagia Info Kuliah S2

@ 01:46 AM (40 months, 29 days ago)

Hello, Rekan-rekan yang sangat saya cintai.

Alhamdulillah tahun 2004 ini eki mendapat kuliah

Biaya dari Institusi Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM

Mohon Doa nya agar bisa menyusul sahabat-sahabat yang sudah berhasil Sekolah sampai S3.

Tahun ini Sudah bisa Tesis.

 

Wassalam

 

Eki

 

 

2005/4/11

Sejarah Pernikahan

@ 07:41 PM (41 months, 3 days ago)

Pernikahan antara Mas Eki dengan Mbak Kiky terjadi pada tanggal ...  Maret 2001 di Garut, Jawa barat.

Siapa Eki?  Eki is anak dari Ngawi, Jawa Timur yang mengembara sampai Ngayogyakarto Hadiningrat.
Tahun 1994 Kuliah di Fakultas MIPA Jurusan Matematika, Program Studi Statistika.

Tahun 2001 menyelesaikan Studi dari sana dengan menggondol Gelar S.Si katanya Gelar Kebesaran untuk Bidang Ilmu Saint yang terkenal sulit bin menakutkan. Al-Hamdulillah.

Read the rest of this entry ... (47 words left)